Ritual Tejak Tanah Kutaringin, Pesona Seni Pembentuk Jati Diri

Ritual Tejak Tanah Kutaringin, Pesona Seni Pembentuk Jati Diri

Untaian permata zamrud khatulistiwa tak hanya menggambarkan kemolekan yang terhampar dari Sabang hingga Merauke. Bumi pertiwi juga begitu kaya dengan keindahan dalam tata cara kehidupan. Lihatlah prosesi adat Tejak Tanah di Keraton Kutaringin, sebuah cara membentuk jati diri yang dikemas dengan keindahan penuh pesona. Sungguh sebuah warisan budaya bercita rasa seni tinggi. Sayangnya generasi sekarang, masih mengabaikan tata cara yang dipenuhi nilai-nilai filosofi kehidupan.

Ajaran kehidupan tak harus dilakukan dengan cara-cara yang kaku. Leluhur bangsa ini mewariskan seni berkelas tinggi termasuk seni dalam mengajarkan tata cara kehidupan dalam membentuk anak bangsa yang berjati diri. Salah satunya, ritual Tejak Tanah di Kesultanan Kutaringin, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Ritual ini juga dimiliki berbagai kesultanan dan kerajaan di berbagai daerah meski dengan varian yang berbeda.

Tejak Tanah bermakna injak tanah, sebuah ritual adat untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan sejak usia yang masih sangat dini. Artinya bayi tidak diperkenanan keluar rumah alias menginjak tanah, sebelum menjalani ritual ini.

“Di Kesultanan Kutaringin, bayi berumur 7 hari hingga satu bulan selalu menjalani ritual ini,” kata Gusti Husin, Ketua Sanggar Kesenian Kesultanan Kutaringin beberapa waktu lalu.

Di saat masyarakat luas di negeri ini mengedepankan pola kehidupan yang pragmatis, keratonlah yang menjadi penjaga budaya warisan leluhur yang adiluhung. Salah satunya Kesultanan Kutaringin yang terus menghidupkan adat budaya yang sesungguhnya aset bangsa yang tak ternilai harganya.

Prosesi Tejak Tanah dimulai dengan memandikan sang jabang bayi yang didudukkan di atas buah kelapa. Tujuannya agar sanga bayi kelak memiliki semangat yang selalu terapung dalam mengarungi samudra kehidupan. Semangat juga mesti selalu terpelihara dengan simbolisasi jala untuk mengurung bayi.

Ritual ini juga membawa ayam jantan yang sayapnya dikepak-kepakkan dekat bayi. Tentu bukan sekedar mainan, tetapi memiliki filosofi yang dalam. Tidak hanya di Indonesia, di belahan manapun, Ayam Jantan dipersepsikan sebagai lambang keberanian. Dan keberanian adalah modal penting dalam menjalani kehidupan.

Seusai dimandikan, sang bayi dalam gendongan ibunya, mengikuti ritual lanjutan. Injak telor, cukur rambut, hingga disuapi aneka makanan seperti ketan.

Telur dengan warna putihnya yang jernih, melambangkan ketulusan. Ketan sebagai lambang bahwa sang anak kelak harus senantiasa lengket dengan orang tua dan keluarga besarnya.

Tak hanya itu, aneka pepohonan juga dibawa-bawa dalam ritual Tejak Tanah seperti pohon pisang dan pohon pinang. Pohon pisang adalah penanaman nilai-nilai agar sang anak menjadi pelindung sesama, sabar, dan produktif. Sedangkan pohon pinang yang lurus menjulang, melambangkan sebuah keteguhan dalam menghadapi segala badai di sekitarnya.

Dengan pesan-pesan yang berisi ajaran kehidupan, sudah selayaknya ritual Tejak Tenah kembali diterapkan secara luas. Tujuannya agar terbentuk anak bangsa yang berjati diri budaya. (Mada Mahfud)

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan