Presiden Kenakan Busana Adat Cirebon dari Ujung Kepala Hingga Ujung Kaki, Sultan Sepuh Terkejut Haru

Presiden Kenakan Busana Adat Cirebon dari Ujung Kepala Hingga Ujung Kaki, Sultan Sepuh Terkejut Haru
Presiden Joko Widodo dengan Busana Adat Cirebon dari ujung kaki hingga kepala saat penutupan Festival Keraton Nusantara XI di Taman Air Goa Sunyaragi (18 September 2017). -foto doc Kesultanan Kasepuhan.

CIREBON-FSKN: Presiden Joko Widodo mengenakan busana adat Cirebon saat penutupan Festival Keraton Nusantara (FKN) XI. Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat menjadi orang yang paling bersuka cita. Sebagai tokoh budaya, Sultan Keraton Kasepuhan Cirebon menilai peristiwa tersebut menjadi kado istimewa bagi warga Cirebon dan  Keluarga Besar Kesultanan Cirebon.

Baju Adat yang dikenakan presiden terdiri dari baju taqwa putih bendo,  blankon coklat bermotif batik megamendung, kain coklat motif wadasan yang melingkar di bagian bawah tubuh, dan  selop buatan pengrajin Pandesan Cirebon.

Sultan Sepuh XIV yang menjadi tuan rumah gelaran FKN XI mengaku terkejut haru. “Syukur alhamdulillah, Presiden Jokowi bisa hadir dalam penutupan FKN XI Cirebon. Ini merupakan kehormatan bagi warga Cirebon dan Raja Sultan se-Nusantara,” kata Sultan Sepuh.

Darimana asal baju adat Cirebon yang dikenakan Presiden? Ternyata dari Keraton Kasepuhan sendiri. Beberapa hari sebelum acara berlangsung, Keraton Kasepuhan mengirimkan paket Busana Adat ke Istana Negara. Namun Sultan Sepuh tetap saja terkejut dan tak menyangka Presiden akan  mengenakannya dalam penutupan FKN XI di Cirebon.

Setelah mendapat kepastian dari protokol presiden akan hadir, maka Sultan Sepuh XIV meminta Permaisuri Ras Isye Natadiningrat untuk untuk menyiapkan kain bendo batik milik keraton kasepuhan dengan motif wadasan.

“Selop lalu dibeli di Pandesan Cirebon dengang ukuran 43. Bendo ukuran 9. Menyediakannya relatif sebentar, hanya dalam 1 hari dan langsung dikirim ke Istana Jakarta dengan melalui Kereta Cirebon Expres dibantu manajemen PT KAI dalam pengiriman,” tutur Sultan Sepuh yang menjadi tuan rumah gelaran FKN XI.

“Dan alhamdulillah dipakai dalam acara penutupan FKN XI Cirebon,” tutur Sultan Sepuh berbinar.

Langkah presiden mengenakan pakaian adat kini menjadi tradisi di pucuk pimpinan negeri. Saat Pidato Kenegaraan dalam Sidang Tahunan MPR 2017 di Gedung DPR/MPR 16 Agustus 2017, Presiden Joko Widodo mengenakan pakaian adat Bone, Sulawesi Selatan yang merupakan daerah asal Wapres Jusuf Kalla. Sebaliknya Wapres Jusuf Kalla mengenakan pakaian adat Jawa yang merupakan daerah asal Presiden Joko Widodo.

Meski terlihat sederhana langkah keduanya bertukar pakaian adat memiliki makna luar biasa. Itu menjadi simbol berbaurnya masyarakat Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika.

Penggunaan pakaian adat berlanjut pada Peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Negara. Presiden mengenakan busana adat lengkap Batulicin, Kalimantan Selatan. Sedangkan Wapres mengenakan pakaian adat Sulawesi Selatan.

Sultan Sepuh XIV memang termasuk pihak yang paling gembira dengan langkah Presiden Jokowi yang konsisten mengenakan pakian adat. “Sudah 72 tahun pakaian adat kita dianaktirikan. Sekarang menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Semoga akan diikuti oleh para menteri, dirjen, anggota parlemen, gubernur, walikota, bupati, dan masyarakat,” katanya.

Sebagai pimpinan organisasi keraton yaitu Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN), salah satu tugas Sultan Sepuh XIV adalah mendorong pelestarian budaya nusantara antara lain pakaian adat. Menurutnya, pakaian adat nusantara, selain sangat indah, juga memiliki nilai yang kuat dalam setiap bagiannya.

“Ini saya kira menjadi awal yang sangat baik bagi penggalian budaya leluhur. Setelah pakaian adat, nanti akan terbuka lebar bagi masyarakat luas bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Inilah kenapa FSKN memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Presiden dan Wapres,” tegas Sultan Sepuh XIV.

Sebagai negara yang dianugerahi oleh ragam suku dan budaya, Indonesia semestinya harus memajukan kebudayaan nasional. Karena hal itu sudah diamanatkan oleh UUD 1945.

Akan tetapi pada kenyataannya, setelah 72 tahun Indonesia merdeka, kebudayaan seperti dianak-tirikan dan bahkan menjadi program terendah di tingkat nasional, provinsi, kabupaten dan kota. Ditambah pula anggaran untuk mendukung kemajuan kebudayaan nasional merupakan yang terkecil, baik itu di APBN serta APBD provinsi, kabupaten dan kota.

“UUD 45 terdapat Bab Pendidikan dan Kebudayaan, yang artinya bahwa kebudayaan adalah sangat penting serta sudah diamanatkan oleh UUD 45. Oleh karena itu kita harus memajukan kebudayaan nasional agar tidak hilang tergerus zaman,” tegas Sultan Sepuh XIV.

Sultan Sepuh XIV menilai salah satu hal yang membuat Indonesia kehilangan jati diri dan tertinggal dari negara-negara lain adalah karena meninggalkan adat budayanya sendiri. Padahal Indonesia dikenal dunia dengan kekayaaan adat budaya yang luar biasa.

“Kita harus angkat kembali sehingga budaya menjadi bagian terpenting untuk memajukan bangsa dan negara. Jika sumber daya alam bisa habis,  kekayaan budaya semakin di gali akan semakin kaya,” tandas Sultan Sepuh XIV. (Mada Mahfud)

 

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan